Rabu, 15 Oktober 2014

Artritis Pada Kuda



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Artritis Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progesif. Penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien AR terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progesifitasnya. Pada umumnya selain gejala artikular, AR dapat pula menunjukkan gejala konstitusional berupa kelemahan umum, cepat lelah atau gangguan organ non artikular lainnya. Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut. Sedangkan menurut Arif Mansjour ( 2001 ) AR adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. AR juga diartikan sebagai  gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat mengemukakan rumusan masalahnya, yakni:
1.      Apa penyebab atau etiologi dari penyakit ini?
2.      Apa saja klinis yang di timbulkan?
3.      Apa akibat yang ditimbulkan dari penyakit ini?
4.      Apa gejala yang ditimbulkan (diagnosa) ?
5.      Bagaimana cara menanggulangi / mencegah penyakit?
C.    Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui diagnosa awal penyakit.
2.      Untuk menambah wawasan mahasiswa dalam memahami tentang  penyakit ini.
3.      Untuk mengetahui diagnosa bandingnya.
4.      Untuk meningkatkan pemahaman tentang bagaimana melakukan tindakan pada kuda yang menderita penyakit ini.
5.      Untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Manajemen kesehatan non ruminansia.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut. (Susan Martin .1998)
Sedangkan menurut Arif Mansjour ( 2001 ) AR adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. AR juga diartikan sebagai  gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone  Burke , 2001 )
AR merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang walaupun manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progesif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh.  Pada umumnya selain gejala artikular, AR dapat pula menunjukkan gejala konstitusional berupa kelemahan umum, cepat lelah atau gangguan organ non artikular lainnya. ( Daud R, 1996 )
Menurut Price  ( 1993 ) Artritis Reumatoid ditandai dengan adanya peradangan dari lapisan selaput sendi (sinovium) yang menyebabkan sakit, kekakuan, hangat, bengkak dan merah. Peradangan sinovium dapat menyerang dan merusak tulang dan kartilago. Sel penyebab radang melepaskan enzim yang dapat mencerna tulang dan kartilago. Sehingga dapat terjadi kehilangan bentuk dan kelurusan pada sendi, yang menghasilkan rasa sakit dan pengurangan kemampuan bergerak .
Manifestasi tersering penyakit ini adalah terserangnya sendi yang umumnya menetap dan progresif. Mula-mula yang terserang adalah sendi kecil tangan dan kaki. Seringkali keadaan ini mengakibatkan deformitas sendi dan gangguan fungsi disertai rasa nyeri.  Artritis adalah inflamasi dengan nyeri, panas, pembengkakan, kekakuan dan kemerahan pada sendi. Akibat artritis, timbul inflamasi umum yang dikenal sebagai artritis reumatoid yang merupakan penyakit autoimun. ( Nasution, 1996 )

BAB III
PEMBAHASAN
A.    DEFINISI ARTHRITIS
Arthritis adalah istilah umum yang berarti peradangan pada sendi. Radang sendi ditandai dengan kemerahan, rasa hangat, bengkak, dan nyeri di dalam sendi.
Rheumatoid arthritis adalah jenis peradangan sendi kronis yang biasanya terjadi pada sendi di kedua sisi tubuh, seperti tangan, pergelangan tangan, atau lutut. Kesimetrian ini membantu membedakan rheumatoid arthritis dari jenis arthritis yang lain.
AR merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang walaupun manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progesif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh.  Pada umumnya selain gejala artikular, AR dapat pula menunjukkan gejala konstitusional berupa kelemahan umum, cepat lelah atau gangguan organ non artikular lainnya. ( Daud R, 1996 ).
Stadium dari arthritis dapat dibedakan menjadi 4 stadium yaitu:
1. stadium pertama : mengalami pincang dan sulit menaiki tangga atau melompat ketempat yang   lebih tinggi.
2. stadium kedua : mengalami kesakitan pada satu atau beberapa kaki setelah berjalan jauh dan mengalami kesulitan bangun setelah berada dalam posisi tidur atau istirahat.
3. stadium ketiga : sangat kesakitan setelah exercise, dan kadang tidak sanggup untuk bangun setelah posisi istirahat.
4. stadium keempat : tidak dapat bangun tanpa bantuan dan tidak dapat berjalan atau melakukan aktifitas normal.

B.     PENYEBAB ARTHRITIS
Berikut adalah 5 penyebab umum sakit persendian yang tidak disebabkan oleh cedera

1.      Penyakit rematik (rheumatoid arthritis) Rematik adalah penyebab paling umum nyeri sendi kronis. Berlawanan dengan pendapat umum, rematik bukanlah penyakit khas usia tua. Orang muda juga dapat terkena rematik. Rheumatoid arthritis disebabkan oleh kerusakan sistem autoimun sehingga tubuh menghasilkan zat yang menyebabkan peradangan, terutama pada sendi. Bagian tubuh favorit yang diserang adalah sendi jari tangan dan kaki dan tulang belakang. Serangan rematik membuat peradangan dan pembengkakan selaput sendi dan secara bertahap menghancurkan kapsul sendi, dan kemudian tendon. Konsekuensi pada akhirnya adalah deformasi tulang dan pembatasan gerakan.

2.      Osteoartritis Osteoartritis adalah penyakit sendi degeneratif (umumnya menyerang mereka yang berusia di atas 45 tahun). Pada osteoarthritis, sendi mengalami nyeri namun tidak diawali dengan peradangan. Rasa nyeri biasanya terasa bila mengangkat beban dan pada awal gerakan dari posisi istirahat. Penyebabnya karena penuaan dan penggunaan terus-menerus. Tulang rawan yang menutupi tulang artikular menjadi aus oleh gesekan secara bertahap. Risiko terutama pada pinggul, lutut, tangan, kaki, dan tulang belakang.


3.      Ankylosing spondylitis Ankylosing spondylitis adalah salah satu bentuk artritis lainnya. Kondisi ini terutama menyebabkan nyeri dan peradangan sendi tulang belakang dan panggul, walaupun sendi lainnya dapat terlibat juga. Gejala dirasakan selama waktu tidur, setelah bangun tidur atau setelah interval tidak aktif. Pada kasus yang parah, ankylosing spondylitis dapat menyebabkan fusi tulang belakang sehingga menyebabkan membungkuk, yang dikenal sebagai kyphosis. Keparahan bervariasi dan tidak semua penderita mengalami fusi tulang belakang. Beberapa mungkin hanya mengalami sakit punggung atau pinggul secara sporadis. Seperti halnya rematik, ankylosing spondylitis adalah penyakit autoimun yang menurun
.
4.      Psoriatik Artritis Arthritis ini adalah efek samping dari psoriasis. Pembengkakan menyakitkan dapat terjadi pada semua sendi, terutama ruas jari, pergelangan tangan, lutut, tulang selangka, pergelangan kaki dan punggung bawah. Gejala biasanya disertai masalah kulit. Sekitar 30-40% orang dengan gejala psoriasis mengembangkan psoriatik artritis, meskipun sering kali tidak terdiagnosis, terutama jika gejalanya ringan. Psoriatik artritis biasanya terjadi antara usia 30-50 tahun, namun bisa muncul pada usia berapa pun dan memengaruhi baik pria maupun wanita.

5.      Gout (asam urat) Jika rasa sakit tajam berada di sekitar ruas dan pergelangan kaki, penyebabnya mungkin adalah gout. Gout adalah hasil kadar asam urat yang tinggi dalam darah. Rasa sakit sendi disertai bengkak, kemerahan, dan hangat. Selain kelima kondisi di atas, penyakit lupus dan penyakit infeksi seperti demam rematik, gondongan, cacar air, hepatitis, dan influenza juga dapat menyebabkan nyeri persendian.

C.    GEJALA KLINIS
Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada penderita artritis reumatoid. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi. Menurut Michael  ( 1995 ) gejalanya adalah sebagai berikut :
1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya.
2. Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalangs distal. Hampir semua sendi diartrodial dapat terserang.
3. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam: dapat bersifat generalisata tatapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis, yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu kurang dari 1 jam.
4. Artritis erosif merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tepi tulang dan ini dapat dilihat pada radiogram.
5. Deformitas: kerusakan dari struktur-struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, subluksasi sendi metakarpofalangeal, deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi besar juga dapat terserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerak ekstensi.
6. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita arthritis rheumatoid. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku ) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan; walaupun demikian nodula-nodula ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan suatu petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat.
7. Manifestasi ekstra-artikular: artritis reumatoid juga dapat menyerang organ-organ lain di luar sendi. Jantung (perikarditis), paru-paru (pleuritis), mata, dan pembuluh darah dapat rusak.
D.    PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN
Pengobatan dan pengendalian yang dapat dilakukan pada penderita penyakit arthritis ini adalah;
1.Operasi
Jika berbagai cara pengobatan telah dilakukan dan tidak berhasil serta terdapat alasan yang cukup kuat, dapat dilakukan pengobatan pembedahan. Jenis pengobatan ini pada pasien AR umumnya bersifat ortopedik, misalnya sinovektoni, artrodesis, total hip replacement, memperbaiki deviasi ulnar, dan sebagainya.


2.Rehabilitasi
Rehabilitasi merupakan tindakan untuk mengembalikan tingkat kemampuan pasien AR dengan cara:
  1. Mengurangi rasa nyeri
  2. Mencegah terjadinya kekakuan dan keterbatasan gerak sendi
  3. Mencegah terjadinya atrofi dan kelemahan otot
  4. Mencegah terjadinya deformitas
  5. Meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri
  6. Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung kepada orang lain.
Rehabilitasi dilaksanakan dengan berbagai cara antara lain dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat, latihan serta dengan menggunakan modalitas terapi fisis seperti pemanasan, pendinginan, peningkatan ambang rasa nyeri dengan arus listrik. Manfaat terapi fisis dalam pengobatan AR telah ternyata terbukti dan saat ini merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dalam penatalaksanaan AR.
Obat yang dapat di aplikasikan pada penyakit ini adalah al:
Obat-obatan yang membantu mengurangi gejala arthritis, seperti nyeri sendi, kekakuan, dan pembengkakan, antara lain:
  • Obat anti-inflamasi penghilang rasa sakit, seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen
  • Penghilang rasa sakit topikal (dioleskan langsung ke kulit)
  • Kortikosteroid, seperti prednison
  • Obat penghilang rasa sakit golongan narkotika
Ada juga obat keras yang disebut disease-modifying anti-rheumatic drugs (DMARDs), yang bekerja dengan menghalangi atau menekan serangan sistem kekebalan tubuh pada sendi. Obat-obat tersebut antara lain:
  • Plaquenil (awalnya digunakan untuk mengobati malaria)
  • Obat penekanan kekebalan tubuh, seperti methotrexate, Imuran, dan Cytoxan
  • Pengobatan Biologis , seperti Enbrel, Humira, Remicade, Orencia, Rituxan, dan Xeljanz
  • Obat-obat lain, seperti Azulfidine dan Arava
  1. Obat
Setelah diagnosis AR dapat ditegakkan, pendekatan pertama yang harus dilakukan adalah segera berusaha untuk membina hubungan yang baik antara pasien dengan keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya. Tanpa hubungan yang baik ini agaknya akan sukar untuk dapat memelihara ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam suatu jangka waktu yang cukup lama.
a. Pendidikan pada pasien mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik dan terjamin ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam jangka waktu yang lama.
b.  OAINS
diberikan sejak dini untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai. OAINS yang dapat diberikan:
1)    Aspirin
Pasien dibawah 50 tahun dapat mulai dengan dosis 3-4 x 1 g/hari, kemudian dinaikkan 0,3-0,6 g per minggu sampai terjadi perbaikan atau gejala toksik. Dosis terapi 20-30 mg/dl.
2)    Ibuprofen, naproksen, piroksikam, diklofenak, dan sebagainya.
3)    DMARD digunakan untuk melindungi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat artritis reumatoid. Mula khasiatnya baru terlihat setelah 3-12 bulan kemudian. Setelah 2-5 tahun, maka efektivitasnya dalam menekan proses reumatoid akan berkurang. Keputusan penggunaannya bergantung pada pertimbangan risiko manfaat oleh dokter. Umumnya segera diberikan setelah diagnosis artritis reumatoid ditegakkan, atau bila respon OAINS tidak baik, meski masih dalam status tersangka.  Jenis-jenis yang digunakan adalah:
a)    Klorokuin, paling banyak digunakan karena harganya terjangkau, namun efektivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang lain. Dosis anjuran klorokuin fosfat 250 mg/hari hidrosiklorokuin 400 mg/hari. Efek samping bergantung pada dosis harian, berupa penurunan ketajaman penglihatan, dermatitis makulopapular, nausea, diare, dan anemia hemolitik.
b)    Sulfasalazin dalam bentuk tablet bersalut enteric digunakan dalam dosis 1 x 500 mg/hari, ditingkatkan 500 mg per minggu, sampai mencapai dosis 4 x 500 mg. Setelah remisi tercapai, dosis dapat diturunkan hingga 1 g/hari untuk dipakai dalam jangka panjang sampai tercapai remisi sempurna. Jika dalam waktu 3 bulan tidak terlihat khasiatnya, obat ini dihentikan dan diganti dengan yang lain, atau dikombinasi. Efek sampingnya nausea, muntah, dan dyspepsia.
c)    D-penisilamin, kurang disukai karena bekerja sangat lambat. Digunakan dalam dosis 250-300 mg/hari, kemudian dosis ditingkatkan setiap 2-4 minggu sebesar 250-300 mg/hari untuk mencapai dosis total 4x 250-300 mg/hari. Efek samping antara lain ruam kulit urtikaria atau mobiliformis, stomatitis, dan pemfigus.
d)     Garam emas adalah gold standard bagi DMARD. Khasiatnya tidak diragukan lagi meski sering timbul efek samping. Auro sodium tiomalat (AST) diberikan intramuskular, dimulai dengan dosis percobaan pertama sebesar 10 mg, seminggu kemudian disusul dosis kedua sebesar 20 mg. Seminggu kemudian diberikan dosis penuh 50 mg/minggu selama 20 minggu. Dapat dilanjutkan dengan dosis tambahan sebesar 50 mg tiap 2 minggu sampai 3 bulan. Jika diperlukan, dapat diberikan dosis 50 mg setiap 3 minggu sampai keadaan remisi tercapai. Efek samping berupa pruritis, stomatitis, proteinuria, trombositopenia, dan aplasia sumsum tulang. Jenis yang lain adalah auranofin yang diberikan dalam dosis 2 x 3 mg. Efek samping lebih jarang dijumpai, pada awal sering ditemukan diare yang dapat diatasi dengan penurunan dosis.
e)     Obat imunosupresif atau imunoregulator.
Metotreksat sangat mudah digunakan dan waktu mula kerjanya relatif pendek dibandingkan dengan yang lain. Dosis dimulai 5-7,5 mg setiap minggu. Bila dalam 4 bulan tidak menunjukkan perbaikan, dosis harus ditingkatkan.  Dosis jarang melebihi 20 mg/minggu. Efek samping jarang ditemukan. Penggunaan siklosporin untuk artritis reumatoid masih dalam penelitian.
f)     Kortikosteroid hanya dipakai untuk pengobatan artritis reumatoid dengan komplikasi berat dan mengancam jiwa, seperti vaskulitis, karena obat ini memiliki efek samping yang sangat berat. Dalam dosis rendah (seperti prednison 5-7,5 mg satu kali sehari) sangat bermanfaat sebagai bridging therapy dalam mengatasi sinovitis sebelum DMARD mulai bekerja, yang kemudian dihentikan secara bertahap. Dapat diberikan suntikan kortikosteroid intraartikular jika terdapat peradangan yang berat. Sebelumnya, infeksi harus disingkirkan terlebih dahulu.





















BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Artritis Reumatoid merupakan suatu penyakit autoimun sistemik menahun yang proses patologi utamanya terjadi di cairan sinovial. Lebih banyak menyerang wanita dibandingkan pria. Penderita Artritis Reumatoid seringkali datang dengan keluhan artritis yang nyata dan tanda-tanda keradangan sistemik. Baisanya gejala timbul perlahan-lahan seperti lelah, demam, hilangnya nafsu makan, turunnya berat badan, nyeri, dan kaku sendi. Penegakan diagnosis dengan criteria ACR
Meskipun penderita artritis reumatoid jarang yang sampai menimbulkan kematian, namun apabila tidak segera ditangani dapat menimbulkan gejala deformitas / cacat yang menetap. Selain itu karena penyakit ini bersifat kronis dan sering kambuh, maka penderita akan mengalami penurunan produktivitas pekerjaan karena gejala dan keluhan yang timbul menyebabkan gangguan aktivitas fisik, psikologis, dan kualitas hidup menderita. Meskipun prognose untuk kehidupan penderita tidak membahayakan, akan tetapi kesembuhan penyakit sukar tercapai.
. Tujuan pengobatan adalah menghasilkan dan mempertahankan remisi atau sedapat mungkin berusaha menekan aktivitas penyakit tersebut. Tujuan utama dari program terapi adalah meringankan rasa nyeri dan peradangan, mempertahankan fungsi sendi dan mencegah dan/atau memeperbaiki deformitas.
saran
Seorang dokter hewan harus lebih banyak mengetahui tentang penyebab, gejala, pencegahan maupun pengobatan untuk penyakit arthritis yang dapat menyerang ternak anjing ini agar dapat mengurangi terjangkitnya penyakit arthritis ini pada ternak babi di berbagai daerah lain yang belum terdeteksi terserang penyakit ini.

DAFTAR PUSTAKA
Com (http://www.anjingkita.com) bebas dimanfaatkan oleh individual untuk keperluan referensi dan non-komersial.
http://www.arthritis.org/

Mengenal dan cara menangani penyakit pada ternak kambing



 
PENCEGAHAN DAN CARA PENANGANAN PENYAKIT PADA TERNAK KHUSUSNYA KAMBING
Bloating (Kembung atau masuk angin )
Kambing yang terjangkit ini biasanya dikarenakan terlalu banyak mengkonsumsi pakan hijauan terutama rumput yang masih muda atau rumput yang berembun (basah), sehingga akan menimbulkan produksi gas yang berlebih dalam perut kambing. ciri-ciri ternak yang terserang penyakit ini memiliki berbagai gejala , antara lain (1) bagian perut kembung, sa'at diraba terasa keras dan ternak merasa sakit; (2) susah dalam proses BAB ( buang air besar ); (3) sa'at berbaring kambing akan mengalami kesulitan untuk berdiri kembali. Program pengendalian yang biasa dilakukan, untuk pencegahan bisa di lakukan langkah-langkah sebisa mungkin kambing tidak memakan rumput yang masih muda atau mengandung tetes embun, atau tidak digembalakan pada pagi hari, bisa juga memberikan obat masuk angin yang tersedia di toko_toko atau apotik.
Cacingan
Penyakit cacingan merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada kambing. Penyakit ini disebabkan oleh parasit internal pada saluran pencernaan kambing. Banyak sekali jenis cacing yang dapat menimbulkan cacingan pada kambing, antara lain Trichuris sp., Oestophagostomum sp., dll. Gejala cacingan, sbb (1) kambing kurus, lemah, serta lesu; (2) nafsu makan berkurang; (3) bulu serasa kasar dan berdiri, kusam atau bahkan rontok berlebih; (4) perut buncit dan kepala agak menunduk; (5) biasanya diare. Pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain kebersihan kandang harus selalu terjaga. Kambing yang terkena cacingan dapat diobati dengan pemberian obat cacing secara teratur.
Scabies
Penyebab penyakit ini adalah ektoparasit, yaitu Sarcoptes scabiei.ciri-ciri yang timbul, antara lain (1) kambing kurus; (2) terdapat bercak merah pada kulit, bersisik dan gatal. Program pengendalian dan pencegahan yang biasanya dilakukan, antara lain kandang dan ternak ( kambing ) sebisa mungkin selalu bersih dan steril, isolasi bagi ternak yang terinfeksi penyakit tsb,mencukur bulu pada bagian yang terjangkit dan pemberian anti parasit seperti Ivomec bagi ternak terinfeksit (terapi) dan kambing yang sehat sebagai imunisasi,
Pink Eye
Penyakit ini biasanya disebabkan mata kambing terkena benda-benda tajam, sebagai contoh ujung kayu, debu,bekatul sa'at pemberian pakan dan duri atau dapat juga di sebabkan oleh parasit. Gejala penyakit ini antara lain (1) mata berair dan kemerahan; (2) selalu menghindar dari sinar matahari; (3) biasanya diikuti pembengkakan di sekitar mata dan lebih parah ternak bisa menjadi buta permanen jika tidak di tangani secara langsung dan berkala.isolasi ternak yang terjangkit karna penyakit jenis pinkeye sangat mudah menulari ternak lain. Pengendalian penyakit yang dapat dilakukan diantaranya adalah menghindari pemberian hijauan yang terdapat duri,cacah halus pakan, pembersihan kandang,bersihkan ternak menggunakan air hangat dan pemberian salep mata disarankan pada kambing yang menderita pink eye tersebut.
Orf atau Dakangan
Penyebabnya adalah kambing terkena rumput yang berbulu atau debu dari konsentrat ketika makan kemudian timbul infeksi. Gejala klinis penyakit ini adalah adanya benjolan dan keropeng hitam pada sekitar mulut. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan program vaksinasi. Pengobatan penyakit ini, yaitu dengan membuat luka baru pada keropeng dan beri preparat iodium dan suntik dengan antibiotik.
Antraks
Penyebab penyakit ini adalah Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan atau minuman, dan dapat juga melalui pernafasan. gejala ternak yang terjangkit virus antraks antara lain,  (1) demam tinggi, badan lemah, dan tubuh gemetar; (2) gangguan pada pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin, dan badan penuh bisul; (4) terkadang darah berwarna merah kehitaman keluar melalui lubang hidung, telinga, mulut, anus, dan alat vital; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Program pengendalian penyakit antraks adalah dengan membakar kambing yang mati.
Penyakit Mulut Dan Kuku (PMK) atau Apthae Epizootica (AE)
Penyebab penyakit ini adalah virus dan menular melalui kontak langsung melalui air kencing, susu, air liur, dan benda lain yang tercemar virus AE. Gejala penyakit ini di antara lain (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kai atau kikil melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, terkadang suhu badan menurun drastis dan tidak stabil; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4)keluarnya air liur yang berlebihan. Pengendalian penyakit ini dengan cara vaksinasi serta pada kambing yang terinfeksi diisolasi dan diobati secara terpisah sebisa mungkin kandang isolasi jauh dari kandang ternak yng sehat.
Mastitis
Mastitis merupakan peradangan pada kambing ataupun puting yang sangat sering dijumpai pada ternak kambing perah, penyakit ini sangat merugikan peternak  karena dapat mengurangi jumlah produksi susu dan susu yang di hasilkan kurang baik kualitasnya. Mastitis sering kali diakibatkan oleh infeksi bakteri staphylococcus aureus ataupun saat proses pemerahan yang kurang sempurna sehingga susu belum sepenuhnya habis pada sa'at pemerahan berlangsung. Mastitis dibagi menjadi 2 yaitu klinis dan subklinis, kejadian mastitis subklinis merupakan yang paling sering terjadi di Indonesia karena tidak menimbulkan gejala klinis tetapi hanya menyebabkan penurunan produksi susu. Pengujian mastitis subklinis dapat dilakukan dengan IPB-mastitis test 1. Pengobatan mastitis dapat dilakukan dengan pemberian antibiotika intra-mammary yang disertai dengan perbaikan proses pemerahan.
Radang Kuku atau Kuku Busuk
Penyakit ini menyerang kambing yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala penyakit ini, yaitu (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya kambing mengalami kelumpuhan. pengobatan dan penanganan dapat di lakukan dengan cara memotong kuku pada ternak,kemudian bisa di siramkan alkohol supaya kuman dan bakteri pada bagian terinfeksi mati,perban kaki kambing tsb dan hindarkan kambing pada tempat-tempat kotor.

NB : sebaiknya kandang dan ternak selalu bersih agar ternak dan peternak merasa nyaman.